1. Dari Amirul
mu'minin Abu Hafs yaitu Umar bin Al-khaththab r.a. berkata: Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda [3] :
"Sesungguhnya semua
amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan bagi setiap orang itu apa
yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah
dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa
yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehnya, ataupun untuk
seorang wanita yang hendak dikahwininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang
dimaksud dalam hijrahnya itu."
(Muttafaq
(disepakati) atas keshahihannya Hadis ini)
Diriwayatkan
oleh dua orang imam ahli Hadis yaitu Abu Abdillah
Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Almughirah bin Bardizbah Alju'fi Albukhari,
- lazim disingkat dengan Bukhari saja -dan Abulhusain
Muslim bin Alhajjaj bin Muslim Alqusyairi Annaisaburi, - lazim disingkat
dengan Muslim saja - radhiallahu 'anhuma dalam kedua kitab masing-masing yang
keduanya itu adalah seshahih-shahihnya kitab Hadis yang dikarangkan.
Keterangan:
Hadis di atas
adalah berhubung erat dengan persoalan niat. Rasulullah s.a.w. menyabdakannya
itu ialah karena di antara para sahabat Nabi s.a.w. sewaktu mengikuti untuk
berhijrah dari Makkah ke Madinah, semata-mata sebab terpikat oleh seorang
wanita yakni Ummu Qais. Beliau s.a.w.
mengetahui maksud orang itu, lalu bersabda sebagaimana di atas.
Oleh kerana
orang itu memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan maksud yang
terkandung dalam hatinya, meskipun sedemikian itu boleh saja, tetapi sebenarnya
tidak patut sekali sebab saat itu sedang dalam suasana yang amat genting dan
rumit, maka ditegurlah secara terang-terangan oleh Rasulullah s.a.w.
Bayangkanlah,
betapa anehnya orang yang berhijrah dengan tujuan memburu wanita yang ingin
dikawin, sedang sahabat beliau s.a.w. yang lain-lain dengan tujuan
menghindarkan diri dari amarah kaum kafir dan musyrik yang masih tetap berkuasa
di Makkah, hanya untuk kepentingan penyebaran agama dan keluhuran Kalimatullah.
Bukankah
tingkah-laku manusia sedemikian itu tidak patut sama-sekali.
Jadi oleh sebab
niatnya sudah keliru, maka pahala hijrahnya pun kosong. Lain
sekali dengan sahabat-sahabat beliau s.a.w. yang
dengan keikhlasan hati bersusah payah menempuh
jarak yang demikian jauhnya untuk
menyelamatkan keyakinan kalbunya, pahalanya pun besar
sekali karena hijrahnya memang dimaksudkan untuk mengharapkan ridho Allah dan
RasulNya. Sekalipun datangnya Hadis itu mula-mula tertuju pada manusia yang
salah niatnya ketika ia mengikuti hijrah, tetapi sifatnya adalah umum. Para
imam mujtahidin berpendapat bahwa sesuatu amal itu dapat sah dan diterima serta
dapat dianggap sempurna apabila disertai niat. Niat itu ialah sengaja yang
disembunyikan dalam hati, ialah seperti ketika mengambil air sembahyang atau
wudhu', mandi shalat dan lain-lain sebagainya.
Perlu pula kita
maklumi bahawa barangsiapa berniat mengerjakan suatu amalan yang bersangkutan
dengan ketaatan kepada Allah ia mendapatkan pahala. Demikian pula jikalau
seseorang itu berniat hendak melakukan sesuatu yang baik, tetapi tidak jadi
dilakukan, maka dalam hal ini orang itupun tetap juga menerima pahala. Ini
berdasarkan Hadis yang berbunyi:
"Niat seseorang itu lebih baik daripada
amalannya."
Maksudnya: Berniatkan sesuatu yang tidak jadi dilakukan
sebab adanya halangan yang tidak dapat dihindarkan itu adalah lebih baik
daripada sesuatu kelakuan yang benar-benar dilaksanakan, tetapi tanpa disertai
niat apa-apa.
Hanya saja
dalam menetapkan wajibnya niat atau tidaknya,agar amalan itu menjadi sah, maka
ada perselisihan pendapat para imam mujtahidin. Imam-imam Syafi'i, Maliki dan Hanbali mewajibkan niat itu dalam segala amalan,
baik yang berupa wasilah yakni perantaraan seperti wudhu', tayammum dan mandi
wajib, atau dalam amalan yang berupa maqshad (tujuan) seperti shalat, puasa,
zakat, haji dan umrah. Tetapi imam Hanafi
hanya mewajibkan adanya niat itu dalam amalan yang berupa maqshad atau tujuan
saja sedang dalam amalan yang berupa wasilah atau perantaraan tidak diwajibkan
dan sudah dianggap sah.
Adapun dalam
amalan yang berdiri sendiri, maka semua imam mujtahidin sependapat tidak
perlunya niat itu, misalnya dalam membaca al-Quran, menghilangkan najis dan
lain-lain.
Selanjutnya dalam
amalan yang hukumnya mubah atau jawaz (yakni yang boleh dilakukan dan boleh
pula tidak), seperti makan-minum, maka jika disertai niat agar kuat beribadat
serta bertaqwa kepada Allah atau agar kuat bekerja untuk bekal dalam melakukan
ibadat bagi dirinya sendiri dan keluarganya, tentulah amalan tersebut mendapat
pahala, sedangkan kalau tidak disertai niat apa-apa, misalnya hanya supaya
kenyang saja, maka kosonglah pahalanya.
0 komentar:
Posting Komentar