About

Sabtu, 08 Februari 2014

Embrio Penyakit Iri dan Dengki (الحسد)

(Seri Penyembuhan Hati -1; Bersama Ustadz Abu Hanifa al-Jandy)  
Diriwayatkan dari Ibnu Majah, bahwa Rosululloh Muhammad SAW bersabda :
الحسد ياءكل الحسنات كما تاءكل النار الحطب
“Sikap iri hati itu memakan banyak kebaikan, sebaimana api memakan (menghanguskan) kayu bakar”
Dalam hubungan social, seseorang akan menemukan banyak perbedaan. Baik perbedaan secara materiil maupun secara keyakinan. Ada orang yang kaya materi, walau bekerja dengan biasa-biasa saja. Ada juga orang yang bekerja cukup gigih dan berat, tetapi tetap saja kekayaannya bisa dibilang pas-pasan. Dalam hal beragama, juga terdapat perbedaan. Bahkan  dalam satu agama saja, banyak terdapat perbedaan. Suatu contoh, dalam agama Islam saja terdapat istilah perbedaan pemahaman hukum fikih, sehingga muncul pemikiran empat madzhab, juga perbedaan pemahaman konsep keyakinan. Perbedaan-perbedaan apapun itu bentuk dan ragamnya adalah suatu keniscayaan. Justru kalau di dunia ini tidak ada perbedaan akan terkesan kaku dan membosankan. Dunia ini penuh ketidaksamaan, tetapi penuh keharmonisan, sebuah  tempat ujian, siapakah yang terbaik amalnya di antara manusia.
Perbedaan sering menimbulkan konflik individu maupun social. Konflik pemikiran, akan berakibat pada renggangnya hubungan antar individu, maupun social kemasyarakatan, yang kadang sampai memunculkan permusuhan. Hal-hal semacam ini sebenarnya dikarenakan masih sedikitnya keilmuan tentang keislaman atau bahkan lemahnya pondasi iman seseorang. Sedikitnya ilmu dan lemahnya keimanan menjadi penyebab utama,rusaknya pengamanan hati dari virus kemaksiyatan dan dosa. Ketika ada orang lain dianggap menjadi penyebab tertundanya pencapaian keinginan, sehingga tidak sejalan dengan kenyataan, maka hati akan terganggu olehnya. Mungkin resah, tidak nyaman atau menutup diri dari orang tersebut. Hati yang seharusnya bersinar, namun karena terganngu maka lambat laun bisa jadi redup. Kalau hati itu tidak segera diobati,  maka semakin lama bisa berpenyakit akut yang susah mengobatinya.
Bermula dari penyakit hati itulah, jiwa seseorang bereaksi untuk melakukan perlawanan. Suatu misal, seseorang hatinya tersakiti karena merasa kesempatannya meraih predikat orang terhormat di mata masyarakat dikalahkan orang lain. Maka reaksinya akan beragam. Mulai dari, harapan agar pesaingnya itu dapat musibah hilangnya kehormatan, walau musibah itu tanpa campur tangan darinya. Atau ia akan melakukan cara apapun, baik berupa kata-kata ataupun tindakan untuk menjatuhkan pesaingnya. Bahkan ia bisa kehilangan akal sehatnya, melakukan tindakan yang tidak rasional untuk bisa meraih apa yang diraih oleh pesaingnya. Ia bisa melakukan propaganda sekeji apapun, dengan dibungkus jubah kebaikan, yang penting dirinya terhormat dan pesaingnya terjatuh. Ia lupa bahwa Alloh SWT Maha Mengetahui atas apa yang tersimpan dalam hati, apakah sejalan dengan yang nampak dan dipertontonkan. Ia akan senang bila pesaingya mendapat musibah, dan sakit rasa hatinya kalau melihat pesaingnya itu mendapat kebahagiaan. Nah sakit yang begini inilah yang disebut penyakit iri dan dengki. Penyembuhannya sangat susah, walau beberapa orang tidak mempedulikan bahkan meremehkan keberadaannya
Diriwayatkan ada seorang penasehat raja yang sholih. Dia memiliki kedudukan terhormat di sisi raja. Tiap hari ia menasehati sang raja dengan ungkapan
احسن الى المحسن باحسانه, فان المسئ ستكفيه اساءته
berbuat baiklah kepada orang yang berbuat baik kepadamu, dengan sebab kebaikannya. Terhadap orang yang berbuat buruk terhadapmu, jangan hiraukan, karena keburukannya itu cukup akan membalasnya.
Penasehat raja itu dikenal memiliki hubungan dekat  dengan sang raja. Karena kedekatannya kepada raja itulah, sehingga ada seseorang yang iri hati. Si fulan yang irihati ini kemudian merencanakan kejahatan untuk membunuhnya. Iapun bergegas menemui sang raja. Sesampainya di hadapan raja, iapun berkata : “sesungguhnya penasehat Tuan raja itu mempermalukan tuan. Ia menyatakan bahwa mulut tuan raja itu bau. Kalau tuan raja ingin bukti kebenaran kata-kata saya ini, perhatikan ketika tuan raja duduk dekat dengannya. Ia akan menutup hidung menggunakan tangannya agar tidak mencium bau mulut tuan raja.” Raja-pun berkata : “baiklah silahkan kamu pergi, dan saya akan buktikan kebenaran kata-katamu.”
Sepulang dari tempat raja, si fulan inipun menjalankan langkah berikutnya yaitu mengundang penasehat raja tersebut agar datang kerumahnya. Sesampai di rumahnya, iapun memberinya suguhan makanan dan bawang. Sebagai adab bertamu, penasehat itupun makan dengan lahap, agar tuan rumah senang. Selesai makan dan berbincang, penasehat berpamitan. Seusai dari tempat sifulan ini, penasehat ada agenda mendatangi sang raja, untuk memberikan nasehat seperti biasanya. Iapun langsung menuju tempat raja.
Sesampai di tempat raja, iapun mengulangi nasehatnya:
 احسن الى المحسن باحسانه, فان المسئ ستكفيه اساءته”. Raja kemudian memerintahkan, agar penasehatnya itu mendekat. Begitu mendekat dengan raja, penasehat itupun langsung menutup mulut dengan tangannya, khawatir kalau bau mulutnya tercium oleh raja. Dan rajapun berkesimpulan, sesuai pesan si fulan, bahwa penasehatnya ini menupup mulut karena mencium bau mulut raja. Iapun bergumam, “benar juga kata si fulan kemaren.”
Di lain kesempatan raja  kembali memanggil penasehat untuk menghadap, dan memberinya sepucuk surat rahasia, agar diantarkan kepada pegawainya di suatu tempat. Sudah diketahui semua rakyat di seluruh negeri, bahwa raja tidak pernah menulis sepucuk surat, kecuali di dalamnya pasti berisi perintah memberi hadiah atau imbalan. Penasehat tanpa ragu pergi untuk mengantar surat tersebut kepada pegawai raja.
Dalam perjalan ia bertemu dengan si fulan, yang memberi suguhan kemaren hari. Si fulan bertanya : “ apa yang kamu bawa dari raja ini, wahai penasehat?” penasehat menjelaskan bahwa dirinya diminta mengantarkan surat kepada bawahan raja di suatu tempat. Si fulanpun berkata lagi : “ berikan surat itu padaku, dan saya akan membantu kamu untuk  mengantarnya kepada orang dimaksud. Silahkan kamu istirahat saja”. Penasehatpun menyerahkan surat itu pada si fulan dengan tulus.
Si fulan langsung bergegas mengantar surat, dengan berharap dapat hadiah. Begitu sampai di tempat tujuan si fulan langsung menyerahkan surat itu pada bawahan raja. Sang bawahan kemudian membuka dan membaca surat raja di hadapan si fulan. “Ketika ada orang datang menyerahkan surat raja ini, maka bunuhlah dia (sebagai hukuman atas kesalahannya). Dan kirimkan jasadnya kepadaku”. Demikian bunyi surat raja. Mendengar dan mengetahui isi surat raja itu, si fulan langsung menolak. Ia menjelaskan bahwa surat itu bukanlah untuk dirinya. “saya akan bilang pada raja, dan membuktikan bahwa itu bukan surat untuk saya. Demikian si fulan membela diri. Bawahan raja pun menjawab, bahwa tidak ada kata membantah untuk perintah raja. Dan dibunuhlah si fulan itu oleh bawahan raja.
Sebagaimana biasanya, penasehat raja kembali mendatangi sang raja sesuai jadwal. Iapun menyampaikan nasehat sebagaimana nasehat sebelumnya. Raja terkejut dan terheran-heran dengan kedatangan penasehat. Raja berkata : “Kamu apakan surat saya kemaren?” Penasehat menjawab : “ketika saya keluar membawa surat raja untuk saya antar kepada bawahan raja, di jalan saya bertemu dengan si fulan. Ia meminta surat itu untuk diantarkan, olehnya, dan sayapun memberikannya. Kemudian saya pulang”
Raja tertegun, kemudian berkata : “si fulan itu mengatakan bahwa kamu meremehkan raja, karena mulut saya bau. Benarkah anda berkata demikian?” penasehat menjawab : “saya tidak pernah berkata demikian.” Raja berkata : “kenapa waktu itu, ketika kamu saya minta mendekat kepadaku, kamu meletakkan tangan kemulut dan hidungmu?” penasehat menjelaskan, bahwa pada waktu itu dirinya baru saja diundang sifulan, dan diberi makan dengan lauk bawang, sehingga mulutnya bau. Ketika berhadapan dan dekat dengan raja, maka dirinya menutup mulut dan hidung demi menjaga hubungan dan kehormatan raja.
Raja akhirnya tahu duduk permasahannya, ia pun berkata : “hari ini saya telah membuktikan kebenaran ajaranmu, selalu berbuat baik terhadap orang yang baik, dan terhadap orang yang buruk, keburukannya akan kembali kepada dirinya sendiri.”
Rencana si fulan untuk mencelakakan penasehat, sama halnya dengan menggali lubang untuk kematiannya sendiri.  اللهم طهر قلوبنا من الحسد والحقد Ya Alloh bersihkan dan sucikan hati kami dari iri hati dan kedengkian.

0 komentar:

Posting Komentar

Blogger news