(Seri Penyembuhan Hati -1; Bersama Ustadz
Abu Hanifa al-Jandy)
Diriwayatkan dari Ibnu Majah, bahwa
Rosululloh Muhammad SAW bersabda :
الحسد
ياءكل الحسنات كما تاءكل النار الحطب
“Sikap
iri hati itu memakan banyak kebaikan, sebaimana api memakan (menghanguskan)
kayu bakar”
Dalam hubungan social, seseorang akan
menemukan banyak perbedaan. Baik perbedaan secara materiil maupun secara
keyakinan. Ada orang yang kaya materi, walau bekerja dengan biasa-biasa saja.
Ada juga orang yang bekerja cukup gigih dan berat, tetapi tetap saja
kekayaannya bisa dibilang pas-pasan. Dalam hal beragama, juga terdapat
perbedaan. Bahkan dalam satu agama saja, banyak terdapat perbedaan. Suatu
contoh, dalam agama Islam saja terdapat istilah perbedaan pemahaman hukum
fikih, sehingga muncul pemikiran empat madzhab, juga perbedaan pemahaman konsep
keyakinan. Perbedaan-perbedaan apapun itu bentuk dan ragamnya adalah suatu
keniscayaan. Justru kalau di dunia ini tidak ada perbedaan akan terkesan kaku
dan membosankan. Dunia ini penuh ketidaksamaan, tetapi penuh keharmonisan,
sebuah tempat ujian, siapakah yang terbaik amalnya di antara manusia.
Perbedaan sering menimbulkan konflik
individu maupun social. Konflik pemikiran, akan berakibat pada renggangnya
hubungan antar individu, maupun social kemasyarakatan, yang kadang sampai
memunculkan permusuhan. Hal-hal semacam ini sebenarnya dikarenakan masih
sedikitnya keilmuan tentang keislaman atau bahkan lemahnya pondasi iman
seseorang. Sedikitnya ilmu dan lemahnya keimanan menjadi penyebab
utama,rusaknya pengamanan hati dari virus kemaksiyatan dan dosa. Ketika ada
orang lain dianggap menjadi penyebab tertundanya pencapaian keinginan, sehingga
tidak sejalan dengan kenyataan, maka hati akan terganggu olehnya. Mungkin
resah, tidak nyaman atau menutup diri dari orang tersebut. Hati yang seharusnya
bersinar, namun karena terganngu maka lambat laun bisa jadi redup. Kalau hati
itu tidak segera diobati, maka semakin lama bisa berpenyakit akut yang
susah mengobatinya.
Bermula dari penyakit hati itulah, jiwa
seseorang bereaksi untuk melakukan perlawanan. Suatu misal, seseorang hatinya
tersakiti karena merasa kesempatannya meraih predikat orang terhormat di mata
masyarakat dikalahkan orang lain. Maka reaksinya akan beragam. Mulai dari,
harapan agar pesaingnya itu dapat musibah hilangnya kehormatan, walau musibah
itu tanpa campur tangan darinya. Atau ia akan melakukan cara apapun, baik
berupa kata-kata ataupun tindakan untuk menjatuhkan pesaingnya. Bahkan ia bisa
kehilangan akal sehatnya, melakukan tindakan yang tidak rasional untuk bisa
meraih apa yang diraih oleh pesaingnya. Ia bisa melakukan propaganda sekeji
apapun, dengan dibungkus jubah kebaikan, yang penting dirinya terhormat dan
pesaingnya terjatuh. Ia lupa bahwa Alloh SWT Maha Mengetahui atas apa yang
tersimpan dalam hati, apakah sejalan dengan yang nampak dan dipertontonkan. Ia
akan senang bila pesaingya mendapat musibah, dan sakit rasa hatinya kalau
melihat pesaingnya itu mendapat kebahagiaan. Nah sakit yang begini inilah yang
disebut penyakit iri dan dengki. Penyembuhannya sangat
susah, walau beberapa orang tidak mempedulikan bahkan meremehkan keberadaannya
Diriwayatkan ada seorang penasehat raja
yang sholih. Dia memiliki kedudukan terhormat di sisi raja. Tiap hari ia
menasehati sang raja dengan ungkapan
“احسن الى المحسن باحسانه, فان
المسئ ستكفيه اساءته”
berbuat baiklah kepada orang yang berbuat
baik kepadamu, dengan sebab kebaikannya. Terhadap orang yang berbuat buruk terhadapmu,
jangan hiraukan, karena keburukannya itu cukup akan membalasnya.
Penasehat raja itu dikenal memiliki
hubungan dekat dengan sang raja. Karena kedekatannya kepada raja itulah,
sehingga ada seseorang yang iri hati. Si fulan yang irihati ini kemudian merencanakan
kejahatan untuk membunuhnya. Iapun bergegas menemui sang raja. Sesampainya di
hadapan raja, iapun berkata : “sesungguhnya penasehat Tuan raja itu
mempermalukan tuan. Ia menyatakan bahwa mulut tuan raja itu bau. Kalau tuan
raja ingin bukti kebenaran kata-kata saya ini, perhatikan ketika tuan raja
duduk dekat dengannya. Ia akan menutup hidung menggunakan tangannya agar tidak
mencium bau mulut tuan raja.” Raja-pun berkata : “baiklah silahkan kamu pergi,
dan saya akan buktikan kebenaran kata-katamu.”
Sepulang dari tempat raja, si fulan
inipun menjalankan langkah berikutnya yaitu mengundang penasehat raja tersebut
agar datang kerumahnya. Sesampai di rumahnya, iapun memberinya suguhan makanan
dan bawang. Sebagai adab bertamu, penasehat itupun makan dengan lahap, agar
tuan rumah senang. Selesai makan dan berbincang, penasehat berpamitan. Seusai
dari tempat sifulan ini, penasehat ada agenda mendatangi sang raja, untuk
memberikan nasehat seperti biasanya. Iapun langsung menuju tempat raja.
Sesampai di tempat raja, iapun mengulangi
nasehatnya:
احسن الى المحسن باحسانه, فان المسئ ستكفيه اساءته”.
Raja kemudian
memerintahkan, agar penasehatnya itu mendekat. Begitu mendekat dengan raja,
penasehat itupun langsung menutup mulut dengan tangannya, khawatir kalau bau
mulutnya tercium oleh raja. Dan rajapun berkesimpulan, sesuai pesan si fulan,
bahwa penasehatnya ini menupup mulut karena mencium bau mulut raja. Iapun
bergumam, “benar juga kata si fulan kemaren.”
Di lain kesempatan raja kembali
memanggil penasehat untuk menghadap, dan memberinya sepucuk surat rahasia, agar
diantarkan kepada pegawainya di suatu tempat. Sudah diketahui semua rakyat di
seluruh negeri, bahwa raja tidak pernah menulis sepucuk surat, kecuali di
dalamnya pasti berisi perintah memberi hadiah atau imbalan. Penasehat tanpa
ragu pergi untuk mengantar surat tersebut kepada pegawai raja.
Dalam perjalan ia bertemu dengan si
fulan, yang memberi suguhan kemaren hari. Si fulan bertanya : “ apa yang kamu
bawa dari raja ini, wahai penasehat?” penasehat menjelaskan bahwa dirinya
diminta mengantarkan surat kepada bawahan raja di suatu tempat. Si fulanpun
berkata lagi : “ berikan surat itu padaku, dan saya akan membantu kamu
untuk mengantarnya kepada orang dimaksud. Silahkan kamu istirahat saja”.
Penasehatpun menyerahkan surat itu pada si fulan dengan tulus.
Si fulan langsung bergegas mengantar
surat, dengan berharap dapat hadiah. Begitu sampai di tempat tujuan si fulan
langsung menyerahkan surat itu pada bawahan raja. Sang bawahan kemudian membuka
dan membaca surat raja di hadapan si fulan. “Ketika ada orang datang
menyerahkan surat raja ini, maka bunuhlah dia (sebagai hukuman atas
kesalahannya). Dan kirimkan jasadnya kepadaku”. Demikian bunyi surat
raja. Mendengar dan mengetahui isi surat raja itu, si fulan langsung menolak.
Ia menjelaskan bahwa surat itu bukanlah untuk dirinya. “saya akan bilang pada
raja, dan membuktikan bahwa itu bukan surat untuk saya. Demikian si fulan
membela diri. Bawahan raja pun menjawab, bahwa tidak ada kata membantah untuk
perintah raja. Dan dibunuhlah si fulan itu oleh bawahan raja.
Sebagaimana biasanya, penasehat raja
kembali mendatangi sang raja sesuai jadwal. Iapun menyampaikan nasehat
sebagaimana nasehat sebelumnya. Raja terkejut dan terheran-heran dengan
kedatangan penasehat. Raja berkata : “Kamu apakan surat saya kemaren?”
Penasehat menjawab : “ketika saya keluar membawa surat raja untuk saya antar
kepada bawahan raja, di jalan saya bertemu dengan si fulan. Ia meminta surat
itu untuk diantarkan, olehnya, dan sayapun memberikannya. Kemudian saya pulang”
Raja tertegun, kemudian berkata : “si
fulan itu mengatakan bahwa kamu meremehkan raja, karena mulut saya bau.
Benarkah anda berkata demikian?” penasehat menjawab : “saya tidak pernah
berkata demikian.” Raja berkata : “kenapa waktu itu, ketika kamu saya minta
mendekat kepadaku, kamu meletakkan tangan kemulut dan hidungmu?” penasehat
menjelaskan, bahwa pada waktu itu dirinya baru saja diundang sifulan, dan
diberi makan dengan lauk bawang, sehingga mulutnya bau. Ketika berhadapan dan
dekat dengan raja, maka dirinya menutup mulut dan hidung demi menjaga hubungan
dan kehormatan raja.
Raja akhirnya tahu duduk permasahannya,
ia pun berkata : “hari ini saya telah membuktikan kebenaran ajaranmu, selalu
berbuat baik terhadap orang yang baik, dan terhadap orang yang buruk,
keburukannya akan kembali kepada dirinya sendiri.”
Rencana si fulan untuk
mencelakakan penasehat, sama halnya dengan menggali lubang untuk kematiannya
sendiri. اللهم طهر
قلوبنا من الحسد والحقد Ya
Alloh bersihkan dan sucikan hati kami dari iri hati dan kedengkian.
0 komentar:
Posting Komentar